Palembang, PB — Kenaikan harga minyak dunia sepanjang Maret 2026 mulai berdampak pada pergerakan harga batu bara global. Kondisi ini membuka peluang bagi emiten tambang nasional, termasuk PT Bukit Asam Tbk, untuk meningkatkan kinerja di tengah dinamika pasar energi.
Harga minyak mentah global tercatat masih berada di level tinggi, mendekati kisaran US$100 per barel. Kenaikan tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dunia. Dampaknya, sejumlah negara mulai mencari alternatif energi yang lebih ekonomis, termasuk batu bara.
Seiring kondisi tersebut, harga batu bara global juga mengalami penguatan dan bergerak di kisaran US$135 hingga US$150 per ton dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan, terutama dari sektor pembangkit listrik di negara-negara berkembang.
Analis energi menilai, hubungan antara harga minyak dan batu bara saat ini semakin terlihat jelas. Ketika harga minyak naik, biaya energi berbasis bahan bakar minyak ikut meningkat sehingga mendorong peralihan konsumsi ke batu bara yang relatif lebih murah.
“Dalam kondisi seperti sekarang, batu bara menjadi opsi yang lebih kompetitif. Ini yang membuat permintaan meningkat dan harga ikut terdorong,” ujar seorang analis energi, Kamis (26/3/2026).
Bagi PT Bukit Asam Tbk, situasi ini dinilai dapat menjadi momentum positif. Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak juga memberi tekanan terhadap biaya operasional perusahaan.
Melalui Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, manajemen menjelaskan bahwa komponen bahan bakar merupakan salah satu variabel biaya terbesar dalam struktur operasional pertambangan.
“Komponen bahan bakar (fuel) merupakan salah satu variabel biaya terbesar dalam struktur cost operasional pertambangan, terutama untuk penggunaan alat berat di area tambang dan transportasi logistik,” ujarnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga minyak dunia secara langsung meningkatkan biaya bahan bakar yang digunakan dalam operasional. Untuk meredam dampak tersebut, perusahaan terus melakukan berbagai langkah efisiensi.
“Saat ini PTBA terus mengoptimalkan penggunaan elektrifikasi pada alat berat tertentu dan memaksimalkan efisiensi rantai pasok guna meredam volatilitas harga minyak mentah global,” katanya.
Lebih lanjut, manajemen menegaskan bahwa margin keuntungan masih dapat terjaga selama kenaikan harga jual batu bara lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya bahan bakar.
“Selama kenaikan average selling price batu bara lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya bahan bakar, maka margin keuntungan tetap terjaga. Selain itu, keberhasilan menjaga margin sangat bergantung pada bauran pasar ekspor dan domestik serta kemampuan dalam mengendalikan optimalisasi efisiensi operasional agar penggunaan BBM tetap terukur,” jelasnya.
Terkait besaran dampak biaya, perusahaan menyebut angka tersebut bersifat dinamis mengikuti kondisi pasar.
“Mengenai persentase spesifik, angka ini bersifat fluktuatif dan bergantung pada realisasi harga indeks pasar. Setiap kenaikan harga minyak yang signifikan tentu memberikan tekanan pada cash cost, namun PTBA berupaya menjaga agar kenaikan tersebut tetap berada dalam koridor target yang ditetapkan dalam RKAP,” tambahnya.
Di tengah tekanan tersebut, PTBA justru melihat situasi ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi di pasar energi.
“PTBA melihat dinamika ini bukan sekadar tantangan, melainkan peluang strategis untuk memperkuat posisi pasar. Perusahaan terus berupaya mencapai target produksi yang telah ditetapkan untuk menangkap momentum harga batu bara global yang sedang menguat,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga aktif memantau peluang ekspor ke negara-negara yang membutuhkan alternatif energi di tengah mahalnya harga minyak dan gas.
“PTBA juga aktif memantau pasar ekspor ke negara-negara yang membutuhkan energi alternatif di tengah mahalnya harga minyak dan gas, sembari tetap berkomitmen pada pemenuhan DMO,” pungkasnya. (**)






