Breaking NewsNasionalPeristiwa

PLTA Sipansihaporas, Benteng Sunyi di Tengah Banjir Tapanuli Tengah

Tapanuli Tengah, PB — Hujan turun tanpa jeda selama hampir sepekan. Di hulu Sungai Sipansihaporas, air berwarna cokelat pekat mengalir deras, menghantam bebatuan dan menyeret batang-batang kayu dari pegunungan. Di sejumlah desa hilir Kabupaten Tapanuli Tengah, warga berjaga sejak dini hari. Lampu rumah dibiarkan menyala. Mata mereka tertuju ke arah sungai, menakar ancaman yang sewaktu-waktu bisa datang.

Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra pada akhir November lalu bukan hanya menguji kesiapsiagaan warga, tetapi juga efektivitas infrastruktur penyangga bencana. Di Tapanuli Tengah, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sipansihaporas justru menunjukkan peran yang jarang disorot: menjadi penahan pertama material banjir sebelum menghantam permukiman.

Erwin Tambunan, warga Desa Sihaporas, Kecamatan Pinangsori, masih mengingat jelas pagi 25 November itu. Air sungai naik drastis, disertai suara kayu-kayu besar yang saling beradu di arus deras.

“Hujan hampir seminggu. Pagi itu air sungai sangat deras. Kayu gelondongan ikut hanyut. Kami langsung panik,” kata Erwin.

Kekhawatiran warga memuncak ketika batang-batang kayu berdiameter besar terlihat meluncur dari hulu. Ancaman kerusakan rumah dan ladang tinggal menunggu waktu. Warga memilih mengungsi.

Namun arus deras itu tak sepenuhnya sampai ke hilir. Di bagian atas desa, bendungan PLTA Sipansihaporas bekerja dalam senyap. Debit air yang melonjak tertahan. Kayu gelondongan, ranting besar, dan sedimen menumpuk di area bendungan, memperlambat laju air sebelum mencapai kawasan padat penduduk.

“Di atas itu kayunya menumpuk seperti gunung. Kalau semua kayu itu turun ke desa, rumah-rumah kami pasti banyak yang hancur,” ujar Erwin. “Dengan adanya PLTA, kami selamat.”

Sedikitnya tiga desa di wilayah hilir Sungai Sipansihaporas terhindar dari potensi kerusakan lebih besar. Bagi warga, bendungan PLTA berfungsi layaknya benteng darurat di tengah cuaca ekstrem.

Peristiwa itu menegaskan peran ganda infrastruktur ketenagalistrikan. Bukan sekadar memasok energi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem mitigasi bencana. Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, menyebut fungsi tersebut memang menjadi pertimbangan dalam pengelolaan PLTA.

“Bendungan PLTA Sipansihaporas membantu menahan material banjir dari hulu, sehingga dampak di hilir bisa diminimalkan. Di saat yang sama, kami menjaga keandalan pasokan listrik meski menghadapi kondisi alam ekstrem,” ujar Rizal.

PLTA Sipansihaporas berada di Desa Husor, Sibuluan, dan Sihaporas, Tapanuli Tengah. Mengandalkan aliran air dari kawasan pegunungan, pembangkit ini menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan Sumatra Utara sekaligus bagian dari bauran energi terbarukan nasional.

Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menjelaskan bahwa secara teknis PLTA Sipansihaporas memang dirancang untuk menghadapi lonjakan debit air. Sistem bendungan dan saluran air berfungsi menahan sedimen serta material padat, termasuk kayu gelondongan.

“PLTA Sipansihaporas memanfaatkan aliran dari Sungai Aer Paramaan, Aek Natolbak, dan Aek Bargot. Saat banjir, sistem ini membantu mengendalikan tekanan aliran ke wilayah hilir,” kata Ruly.

Selain fungsi mitigasi, PLTA berkapasitas total 50 megawatt (MW) ini telah menyuplai listrik hijau bagi Tapanuli Tengah dan sekitarnya selama lebih dari dua dekade. Setelah bencana, seluruh unit kembali beroperasi penuh pada 2 Desember 2025. Pasokan listrik ke Kota Sibolga dan Pandan kembali stabil, menandai pulihnya aktivitas warga.

“Pengalaman ini menjadi pelajaran penting dalam mengelola pembangkit yang adaptif terhadap risiko iklim. Kami tidak hanya memproduksi listrik, tetapi memastikan operasional pembangkit memberi manfaat nyata bagi keselamatan masyarakat,” ujar Ruly.

Di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, PLTA Sipansihaporas hadir bukan hanya sebagai sumber energi terbarukan. Ia berdiri sebagai infrastruktur yang diam-diam bekerja melindungi. Bagi warga di sepanjang Sungai Sipansihaporas, keberadaan bendungan itu kini dimaknai lebih dari sekadar pembangkit listrik—melainkan penyangga hidup di saat alam menunjukkan sisi paling kerasnya. (Ika)

admin
the authoradmin

Tinggalkan Balasan