TRIVIA

Air, Cahaya, dan Napas Kota “Filosofi di Balik Kemilau Tugu Campako Telok”

Oleh : Gatot Sultan

TRIVIA – Palembang kembali bersolek. Di tengah hiruk-pikuk metropolitan yang kian memadat, hadir sebuah ikon baru yang mencuri perhatian “Tugu Air Mancur Campako Telok”. Namun, memandang tugu ini sekadar sebagai objek estetik atau spot swafoto belaka adalah sebuah kerugian intelektual. Lebih dari itu, tugu ini adalah simbolisasi dari “seni kesadaran”, sebuah pengingat visual tentang hubungan purba antara manusia, air, dan warna-warni kehidupan.

Simbolisme Campako Telok (Wadah Kehidupan)

Secara harfiah, “Campako Telok” (Cempaka Telur) membawa memori kolektif tentang kelembutan dan pertumbuhan. Dalam kacamata filosofis, bentuk yang menyerupai kuncup atau wadah ini melambangkan rahim kehidupan. Di sinilah air menjadi aktor utamanya.
Air yang memancar dari tugu tersebut bukan sekadar hiasan mekanis, melainkan representasi dari “Ritme jantung kota”. Air yang jernih adalah cermin dari jiwa masyarakatnya. Jika air di pusat kota keruh, maka ada yang salah dengan cara kita memandang sumber kehidupan. Tugu ini seolah berbisik: “Keindahan kota ini bergantung pada caramu menjaga kesucian alirannya.”

Seni Kesadaran (Air Sebagai Guru Moderasi)

Menjaga air tetap bersih di tengah kepungan beton adalah sebuah bentuk perlawanan kultural terhadap sikap abai. Ada korelasi mendalam antara kebersihan air dan kejernihan berpikir :
* Refleksi Diri :
Air yang tenang dan bersih memungkinkan kita melihat bayangan diri. Tugu ini mengajak warga Palembang untuk berefleksi, sudahkah kita berkontribusi pada keasrian kota, atau justru menjadi beban bagi ekosistemnya?
* Harmoni dalam Warna :
Permainan lampu warna-warni yang membias di butiran air mancur melambangkan pluralitas. Kota yang indah bukan kota yang seragam, melainkan kota yang mampu memadukan berbagai “warna” kepentingan tanpa mengotori “sumber air” (kedamaian) bersama.

Estetika yang Bertanggung Jawab

Warna-warni kehidupan kota yang indah dan asri tidak datang dari kaleng cat, melainkan dari kesadaran ekologis. Tugu Campako Telok hadir sebagai “MONUMEN KESADARAN”. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi (yang diwakili oleh sistem air mancur modern) harus berjalan beriringan dengan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan.
Menjaga air tetap bersih bukan sekadar tugas dinas kebersihan, itu adalah laku spiritual. Setiap tetes air yang jatuh di tugu tersebut adalah pengingat bahwa di tanah rawa ini, air adalah leluhur kita. Mengotorinya berarti mengkhianati sejarah.

Menuju Palembang yang “Sadar”

Kehadiran ikon ini seharusnya memicu pergeseran paradigma. Kita tidak hanya butuh kota yang gemerlap di malam hari, tapi kota yang “bernapas” lega karena saluran airnya tak tersumbat plastik. Tugu Campako Telok adalah undangan bagi setiap warga untuk menjadi seniman bagi lingkungannya sendiri, melukis keindahan lewat tindakan nyata menjaga kebersihan.
Pada akhirnya, keindahan sejati sebuah kota tidak terletak pada megahnya tugu, melainkan pada kejernihan air yang mengalir di dalamnya dan ketulusan hati warganya dalam menjaga warisan alam. (**)

admin
the authoradmin

Tinggalkan Balasan