Oleh : Gatot Sultan
Di balik gemerlap layar sentuh dan kecanggihan kecerdasan buatan (AI) yang kini merambah ruang kelas, sebuah pertanyaan eksistensial membayangi koridor sekolah kita, Masihkah manusia dibutuhkan untuk mendidik manusia? Ketika AI mampu menjawab soal kalkulus dalam hitungan detik dan merangkai esai sejarah dengan sempurna, profesi guru di Indonesia sedang berdiri di bibir jurang disrupsi.
Paradoks Pengetahuan (Informasi Tanpa Transformasi)
Secara filosofis, kita harus membedakan antara transfer informasi dan transformasi jiwa. AI adalah puncak dari rasionalitas teknis, ia sangat cerdas, namun ia “MATI”. Ia memiliki data, tapi tak memiliki doxa (keyakinan) maupun phronesis (kebijaksanaan praktis).
Di sekolah-sekolah kita, bahaya terbesar bukan terletak pada AI yang menggantikan guru, melainkan jika guru mulai bekerja seperti “AI”. Mekanis, dingin, dan hanya mengejar skor administratif. Jika pendidikan hanya dimaknai sebagai pengunduhan data ke otak siswa, maka guru memang sudah tamat. Namun, pendidikan sejati adalah proses “pemuliaan martabat”, sebuah wilayah yang tak terjamah oleh barisan kode biner.
Guru sebagai “Penjaga Nyala Api” (Sebuah Solusi Kesadaran)
Menghadapi serbuan AI, solusinya bukan dengan menjauhi teknologi, melainkan dengan meradikalisasi kemanusiaan kita. Guru harus bermutasi dari sekadar “pemberi tahu” menjadi “pembangkit kesadaran”.
1. Transendensi Peran Dari Instruksi ke Inspirasi
Guru tidak boleh lagi bersaing dengan Google atau ChatGPT dalam hal kecepatan informasi. Guru harus menjadi provokator intelektual yang merangsang siswa untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana jika”, bukan sekadar “apa”. Inilah level kesadaran yang melampaui algoritma.
2. Pedagogi Kehadiran (The Power of Presence)
AI tidak bisa memberikan pelukan semangat pada siswa yang patah hati, atau menangkap kilat kesedihan di mata anak yang dibuli. Solusi konkretnya adalah pengurangan beban administrasi guru secara masif agar mereka memiliki waktu untuk hadir secara utuh sebagai pendamping spiritual dan emosional bagi siswa.
3. Kurikulum Etika Digital (Socrates di Ruang Siber)
Sekolah harus menjadi laboratorium moral. Guru berperan membimbing siswa menggunakan AI sebagai “alat bantu” tanpa kehilangan “Daya kritis”. Kita harus mendidik generasi yang mampu mendikte teknologi, bukan didikte olehnya.
Kesimpulan
(“Kembali ke Hati”)
AI mungkin bisa mengajar, tapi ia tidak bisa mendidik. Nasib guru di Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa canggih mereka menggunakan aplikasi, melainkan oleh seberapa dalam mereka mampu menyentuh sisi kemanusiaan siswa yang tak terjangkau oleh kabel fiber optik.
Jika guru kembali pada khitahnya sebagai pemberi makna dan penjaga moral, maka AI bukan lagi ancaman, melainkan sekadar asisten teknis. Indonesia membutuhkan guru yang tidak hanya pintar secara kognitif, tapi juga bangun secara intuitif.
Salam Budaya
Seni Kesadaran
RUMAH ASPIRASI BUDAYA






