Oleh: Gatot Sultan
Rumah Aspirasi Budaya
TRIVIA – Kita hidup di zaman ketika menunggu dianggap sebagai cacat sistem. Keterlambatan kurir sepuluh menit memicu amarah. Aplikasi yang memuat data lebih dari tiga detik dianggap merampas hak paling mendasar: waktu. Dalam lanskap seperti ini, kecepatan tidak lagi sekadar alat untuk efisiensi—ia menjelma menjadi ideologi.
Kecepatan telah menjadi kultus.
Secara intelektual, masyarakat modern terjebak dalam apa yang disebut filsuf Prancis Paul Virilio sebagai dromology—logika kecepatan yang mengatur cara kita bekerja, berpikir, dan berinteraksi. Dalam kerangka ini, nilai suatu aktivitas ditentukan bukan oleh kedalaman atau maknanya, melainkan oleh seberapa cepat ia diselesaikan dan dikonsumsi.
Namun, ada harga yang harus dibayar dari pemujaan terhadap kecepatan. Ketika segala hal dipaksa bergerak cepat, kedalaman menjadi korban pertama. Membaca buku perlahan digantikan oleh ringkasan instan; diskusi yang utuh menyusut menjadi utas-utas pendek yang dangkal. Kita mengetahui banyak hal, tetapi memahami semakin sedikit.
Padahal, sejarah pemikiran manusia menunjukkan sebaliknya. Gagasan-gagasan besar tidak lahir dari ketergesaan. Ia tumbuh dari masa inkubasi yang panjang, dari kebosanan yang produktif, dari keberanian untuk berhenti dan berpikir. Hak untuk menjadi lambat adalah prasyarat bagi lahirnya kebijaksanaan.
Ketika kemampuan untuk berhenti sejenak hilang, manusia tidak lagi menjadi subjek yang berpikir secara otonom. Ia berubah menjadi komponen kecil dalam mesin konsumsi yang terus berputar—merespons notifikasi, mengejar tren, dan memproduksi reaksi tanpa refleksi.
Dalam konteks inilah, perlambatan menjadi sebuah sikap politik. Mungkin bentuk perlawanan paling radikal hari ini bukanlah demonstrasi di jalan, melainkan keberanian untuk tidak segera membalas pesan, keberanian untuk duduk diam tanpa gawai, dan keberanian untuk tertinggal dari tren yang cepat muncul sekaligus cepat dilupakan.
Menolak tergesa-gesa bukan berarti menolak kemajuan. Ia adalah upaya merebut kembali kedaulatan atas waktu, pikiran, dan kemanusiaan kita sendiri.
Dan di tengah dunia yang berlari tanpa henti, barangkali keberanian terbesar adalah memilih untuk berjalan—perlahan, sadar, dan utuh.(**)






